Category Archives: Review

BNI Citilink TravellingCard

Standard

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) dan Citilink Garuda telah menjalin kerjasama penerbitan Kartu Kredit BNI Private Label dalam bentuk travelling card yang diperuntukkan bagi para travel agent dalam melakukan transaksi pembelian e-ticket secara online. Selain untuk transaksi pembelian e-ticket, para travel agent pemegang kartu ini juga mendapat manfaat, antara lain membantu cash flow management, memiliki manajemen reporting yang lebih rapi karena semua transaksi akan tercatat di lembar penagihan, dan bunga yang ringan.

Dalam kesempatan ini, BNI dan Citilink Garuda kembali melakukan sosialisasi produk Travelling Card yang telah di-enhanced dengan skim baru. Menurut Grace Pong Samma, VP Marketing BNI Card Center, kerjasama ini merupakan komitmen BNI dalam memberikan nilai tambah bagi para travel agent Citilink melalui kemudahan dalam melakukan transaksi pembelian tiket pesawat Citilink. Selain itu, kerjasama ini juga merupakan bentuk sinergi bisnis antara BNI dengan Citilink Garuda dan juga peningkatan kualitas layanan kepada customer.

Bagi BNI, penerbitan travelling card ini merupakan bentuk pengembangan bisnis e-commerce dan menjadi salah satu strategi penetrasi pasar untuk segment Commercial Card.

Nah kalo udah begini yang diuntungkan siapa nih? Semuanya dong ya, terutama untuk kepuasan costumernya Citilink macam kita semua ini ;)

SUMBER:

http://bni.co.id/BeritaBNI/SiaranPers/tabid/246/articleType/ArticleView/articleId/384/BNI-dan-Citilink-Garuda-Sosialisasikan-BNI-Citilink-Travelling-Card.aspx

Kepak Sayap Besi Citilink

Standard

Ada berapa banyak maskapai domestik yang kita tahu? Top of mind kita tentu mengarah pada Garuda Indonesia Airways (GIA) lalu diiringi dengan penyebutan nama-nama maskapai seperti Batavia, Sriwijaya, dan lainnya. Tapi apakah kita tahu bahwa ada maskapai lokal dengan nama Citilink yang ternyata adalah anak perusahaan GIA?

Sejak diresmikannya pada tahun 2001, Citilink tidak menunjukkan performa yang signifikan. Bahkan 15 Januari 2008 Citilink sempat menghentikan operasinya hingga Agustus 2008 dan mulai terbang 1 bulan kemudian atau September 2008 dengan bentuk format dan layanan baru.

Berlindung di balik sayap Garuda selama ini mungkin menjadi salah satu faktor kurangnya perhatian masyarakat pada Citilink.  10 tahun berkiprah di dunia penerbangan maskapai ini baru membuka 8 rute domestic dengan mengandalkan 7 armada bukanlah prestasi yang bisa dibanggakan.

Mungkin hal inilah yang menjadikan Citilink memberanikan diri untuk tampil ke permukaan. Citilink mulai berbenah. Tampilan baru dengan new livery yang lebih segar, penambahan armada (Airbus A320), perekrutan cabin crew via facebook, lomba desain seragam pramugari, dan tentu saja promo yang gencar pun dilakukan. Bukan hanya itu saja, frekuensi penerbangan pun ditambah. Yakni untuk rute Surabaya – Banjarmasin, Jakarta – Batam dan Jakarta – Bali, masing-masing mendapatkan tambahan 7 jadwal dari sebelumnya.

Pelan namun pasti Citilink mulai mengepakkan sayapnya. Terlihat dari jumlah penyuka fanpage di facebook yang meningkat hingga 49.354 yang semula hanya beberapa ribu saja dan juga jumlah pengikut akun twitter @Citilink sebanyak 4.743 (3 bulan kebelakang tidak sampai 1.000 followers).

Lalu apakah kepak Citilink akan seperkasa induknya? Kita lihat saja

Citilink! Murah, Puas!

Standard

Mau sharing dikit nih gan :D
Senin kemarin (13 juni 2011) yang lalu, saya mendadak diberangkatkan oleh kantor ke Bali. Berhubung semua mendadak, saya gak bawa persiapan yang cukup. Untung dalam tasku slalu bawa sehelai baju kaos dan daleman. Maklum kadang suka nginep dikantor kalau lagi lembur.

Rencana yang dadakan dan terbilang darurat itu cukup bikin saya glagapan. “Mau naek apa ke Balinya?”. Secepat kilat tiket pesawat harus segera dibeli. Pilihan saya jatuh pada  Citilink. Saya pengen nyobain maskapai ini. Perburuan singkat membuahkan hasil. Meski gak dapet yang promo (1 Juli s/d 14 Agustus 2011 lagi ada early bird promo, gan) ya gak apa-apa deh. Alhasil saya berangkat siang.

Sebelum jam 12 saya udah merapat di Terminal 1C. Langsung aja saya check in. Point pertama yang saya suka dari maskapai ini adalah keamanan. KTP diperiksa ampe 2 kali, Gan! Pas check in ama boarding pass. Mungkin karna standarnya Garuda kali ya gan?!

Terminal 1C Soekarno Hatta

Saya deg-degan, karena jam 16:00 saya harus udah nyampe dan langsung meeting. Semoga ga delay. Syukurlah doa saya didengar. Pesawat pun berangkat tepat waktu. Dan memang setelah saya coba ngobrol dengan penumpang lain yang duduk disamping saya, Citilink emang paling jarang delay. Gak mentang-mentang murah, trus dilambat-lambatin. Kalau pun delay dan memakan waktu lama, penumpangnya gak ditelantarin. Ok, udah 2 point plusnya nih.

Cabin

Kemudian yang ketiga, selain pelayanan yang ramah, uniform pramugarinya gan! Cuma pake Polo T-shirt pink, celana pendek putih sedengkul, ama spatu kets. Sporty banget dan santai.

Crew

Jadinya ga kaku berinteraksi ama penumpang.
Nah, berhubung saya tinggi, maka saya sering banget kepentok di seat. Dan ternyata seat di Citilink cukup berjarak. Lega deh ni dengkul :D

Seat

Ternyata Citilink bukan cuma murah, tapi memuaskan gan ;)

www.citilink.co.id

Pay It Forward (movie review)

Standard
Pay It Forward

Image via Wikipedia

“Apa yang telah kamu lakukan untuk merubah dunia?”

Pertanyaan inilah yang terlintas diotakku setelah menonton film PAY IT FORWARD.
Telat memang, karna film ini adalah produksi tahun 2000. Tapi yang pasti dengan menonton film ini banyak pesan moral yang kudapatkan.

Berawal dari tugas sekolah Trevor Mc Kinney (diperankan oleh Haley Joel Osment) yang menemukan ide untuk melakukan kebaikan setiap 3 orang dan tanpa meminta imbalan balik. Yang dia minta hanya agar orang yang ia tolong kembali melakukan kebaikan lagi kepada 3 orang lainnya dan begitu seterusnya. Dan seperti efek MLM, maka perlahan namun pasti kebaikan itu akan terus menjalar.

Film yang disutradarai oleh Mimi Leder diangkat dari novel karya Catherine Ryan Hyde telah berhasil menyentuh hati.
Akting dari Kevin Spacey dan Helen Hunt sangat apik. Dari keseluruhan plot berjalan sangat natural. Tidak ada yang terkesan pemaksaan karakter maupun isi cerita. Beda banget dengan film Indonesia !-_-

Setelah menonton film ini, ga ada salahnya untuk mengikuti ide si kecil Trevor ;)
Film ini pun ku kantongi sebagai salah film favoritku disamping Freedom Writers Diary. If Only dan Love Me If You Dare.

Buat yang belum nonton, coba deh. Tips : Siapin tisu, U’ll be need it ;)

Result : 5 Bintang buat Pay It Forward

Surat Keluhan Untuk Indosat

Standard

Beberapa waktu belakangan ini banyak keluhan yang dilontarkan para pengguna Indosat. Entah mengapa kualitas provider ini mengalami penurunan.

Saya berbicara seperti ini bukan tidak beralasan, karena saya sendiri adalah pengguna Indosat.

Awalnya saya tidak begitu ambil pusing. Tetapi lama kelamaan ya bikin gerah juga. Setiap malam – mulai jam 7 sampai dengan 11 – koneksi pada BB berjalan lamban bahkan cendrung statis. Fasilitas semacam Blackberry Messenger acapkali pending. Hal yang sama ketika saya (khususnya) sedang bercuap-cuap ria di Twitter. Hal ini akan semakin parah jika diikuti dengan cuaca buruk. Ok jika memang sedang badai dan petir yang bersahutan. Tapi ini cuma gerimis doank?!

Belum lama ini saya berlangganan broadband Indosat dengan menggunakan kartu IM3. Karena saya tipe yang gak mau ribet, ya sudahlah langsung aja saya ambil paket Unlimited Bulanan. Dan ternyata “penyakit lemot” ini juga dialami untuk fasilitas Broadbandnya. Sekali duakali saya bisa “mencoba” memahami. Namun kok kayak kecanduan Disconnect (DC) ya?!

Saya mencoba menelpon CS Indosat, meski saya tahu bahwa keluhan saya hanya diterima dan dicatat. Hingga kesabaran saya pun menipis. Setiap malam, saya mesti menghubungi CS Indosat terlebih dahulu yang pada kenyataannya tidak membuahkan hasil yang positif atas tanggapannya. Bahkan saya bisa menelpon sebanyak 4 kali dalam satu malam guna meminta tindak lanjut dari pihak Indosat. Dan jawabannya pun sama.

Saya tidak berhenti hanya mencoba menghubungi CS, tapi juga saya search akun twitter Indosat yang ternyata banyak. Saya coba me-mention akun Indosat yang paling banyak followernya dan paling aktif. Kali ini bukannya dibalas mention saya, tapi tidak dibalas. Ya, Saya pun sadar bahwa pasti banyak banget yang mention ke akun tersebut.

Saya membuat posting ini bukan berarti menjelek-jelekkan kualitas jasa Indosat (bagus atau jeleknya baiknya teman-teman sendiri yang menilai), atau ingin diperhatikan secara khusus apalagi minta ganti rugi. Yang saya inginkan adalah tindak lanjut atas pelayan Indosat. Toh Indosat bukan pemain baru di dunia bisnis ini. Tapi jika kenyataannya tidak ada pembenahan diri, maka para pengguna (dalam hal ini saya sendiri) Indosat akan berpindah ke provider yang lain.

Sebagai bahan acuan, bisa kok di search tagar #indosat di Twitter dan liat hasilnya apa. Saya jamin minimal 90% adalah komplen yang amat sangat pedas. Kemudian timbul pertanyaan di otak saya, “Tidah adakah satu departemen khusus yang menangani keluhan pelanggan?” Saya rasa ada, tapi sepertinya tidak berjalan seharusnya? Ah, pastinya orang-orang Indosat yang lebih tahu. Dan kami – para pengguna – hanya ingin tahu bahwa pelayanan jasa Indosat bagus. Udah, itu aja kok.

Demikianlah racauan seorang pelanggan Indosat yang akan segera berpindah ke lain provider. J

IndoRock!

Standard

Masih berkaitan dengan postingan gue sebelumnya tentang #Obsat yang lampau, kali ini gue akan sedikit membahas tentang music *pasang boot*

Dikesempatan #Obsat tersebut Pepeng NAIF memperkenalkan sebuah band project yang tengah ia tanganin. Band tersebut bernama The Time Travellers. Pepeng mengutarakan bahwa band yang bawa ini membawakan genre IndoRock. Nah kan, mikir deh tuh J

Seperti kalian (yang bingung akan apa itu IndoRock) awalnya gue sempat kaget. Nama IndoRock sama sekali baru ditelinga gue. Tapi begitu Pepeng menyebutkan nama The Tielman Brothers, gue langsung ngeh.

Ok, kita bahasa atu-atu ye cuy ;)

Usai kemerdekaan kita diproklamirkan, banyak dari orang Indonesia yang memutuskan hijrah ke Belanda. Bukan hanya demi mengais rejeki di negri londo itu, tapi juga demi mengekspresikan hasrat bermusik mereka. Terlebih dengan adanya desas-desus dilarangnya memainkan music ala barat di rezim Soekarno.

Jenis musik yang mereka sajikan adalah fusion antara music barat dengan music Indonesia atau lebih dikenal dengan Keroncong dan dibumbui akan nuansa Hawaiian. Sekedar mengingatkan, Keroncong adalah music yang dibawa oleh pelancong Portugis ke Indonesia.

Bukan hanya suguhan musik yang apik tapi juga performance yang “Nggilani” alias edan, membawa IndoRock diminati para bule Belanda bahkan Eropa.

The Tielman Brothers – disinyalir adalah band pertama yang menggunakan kata “Brothers – adalah pemrakarsa akan music IndoRock ini. Bahkan Andy Tielman dinobatkan sebagai KING of IndoRock. Namun ada yang miris dibalik cerita kejayaan IndoRock ini. Karena di tanah air sendiri, masyarakat awam (umumnya) bahkan musisi kini (khususnya) masih banyak yang ndak tau apa itu IndoRock. Mereka (bahkan saya termasuk) hanya mengenal Rock yang umum di Western sana dan J-Rock untuk dari Negara tetangga se Asia.

IndoRock mempunyai banyak keunggulan, dan itu layak kita perjuangkan. Semangat itulah yang melandasi Pepeng dan rekans untuk membangkitkan kembali IndoRock ke kancah music Tanah Air melalui membentuk The Time Travellers.

Jujur saat pertunjukan di #Obsat itu gue kurang puas. Karena persedian sound system yang seadanya. Tapi cukup membuat gue takzim. Kelak di perhelatan The Time Traveller selanjutnya gue bakal bela-belain buat datang dan menjadi saksi mata bahwa INDONESIA PUNYA MUSIK SENDIRI! *ngibarin Sang Saka*

Nah buat lo yang pengen tau lebih lanjut tentang The Time Travellers, bisa klik aja link dibawah ini :

Facebook The Time Travellers

Twitter : @Time_Travellers

Sumber :

Wiki

Story IndoRock

Diary Pepeng at naifband.com

Web Pepeng

SalingSilang

Nge #obsat yuk – Musik dan HAKI

Standard

Udah pada tau kan #obsat itu apa?

Wah belum tau? Terlalu..ckckckckc

#Obsat itu singkatan dari Obrolan Langsat (kalo ada yang nyeletuk “alat pencari Chuck Norris” aku kemplang) lol :) )

Acara ini digelar setiap selasa dan kamis jam 19.30 di Jl. Langsat no. 1 Jakarta (Depan Pos Langsat dan deketan juga ama kantornya Saling Silang).

Format acaranya santai dan ada sesi tanya jawabnya juga. Temanya pun beragam. Nah kali ini akan dibahas mengenai Musik dan HAKI. Untuk narasumbernya adalah Pepeng NAIF ( @i_frank ) dari sisi Musisinya dan Ari Juliano Gema ( @arijuliano ) dari sisi hukum dan HAKI.

Kita sering kali mendengar cerita mengenai band A tertipu karena tidak mendapatkan royalti dari Publishernya, atau band B mendapati lagunya di tempat karoke tanpa sepengatahuan dan tidak mendapatkan royalti (curcol nih :D ) atau juga si C dan si D saling menggugat mengenai kepemilikan lagu. Ok, nanti aku jabarin satu-satu.

Pepeng mengakui, saat pertama kali deal dengan publisher (dalam hal ini yang dimaksud adalah perusahaan label rekaman) tidak terlalu memperhatikan isi dari kontrak. Mungkin dikarenakan perasaan girang yang bergejolak jadinya langsung teken kontrak aja. Namun saat album NAIF keluar di pasaran dan ternyata laku, Pepeng dan teman-teman merasa ada yang salah. Ini dikarenakan mereka tidak mendapatkan royalti atas penjuakan album mereka.

Bingung?

Jadi begini, saat kerjasama antara musisi dan publisher akan dilaksanakan, pihak publisher akan menawarkan kerjasama dengan kontrak putus. Misal, nilai kontrak 1 album Rp. 100.000.000,- Jika penjualan album ternyata laris, maka publisher tidak berkewajiban untuk membayarkan royalti kepada musisi tersebut. Inilah yang dialami oleh NAIF.

Namun, jika musisi tersebut atas kontrak tersebut, maka bisa mengajukan kontrak dengan system royalty. Biasanya nilai kontraknya tidak setinggi dengan kontrak yang saya sebut diatas tadi. Tapi jika penjualan album melebihi quota maka musis berhak mendapatkan royalty. Semakin banyak album yang terjual, semakin banyak pula royalty yang didapatkan. Ingat debut Sheila On7 diawal karir mereka? Mereka (terutama Eros) langsung mendadak kayak arena penjualan album mereka melebihi 1 juta copy.

Jadi jika ada dari temen-temen musisi yang hendak direkrut publisher, hendaknya jeli dengan isi kontrak. Dan gak ada salahnya menggunakan jasa konsultan hukum untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Itu seklumit cerita dari pengalaman Pepeng sebagai penabuh drum di band NAIF. Selanjutnya obrolan lebih menjurus akan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Selain lagu/music, nama band juga bisa didaftarin ke HAKI. Karena nama band gak beda dengan Merk. Mas Ari menyarankan jika nama band tersebut berasal dari orang lain yang bukan personil band tersebut, maka ada baiknya memberikan kompensasi yang bisa berbentuk sejumlah uang atau apapun yang disepakati.

Kemudian saya diundang untuk sedikit berbagi cerita. Berhubung saya juga pernah ngeband dan meluncurkan album meski masih Indie. Ada 2 hal yang saya tanyakan kepada Mas Ari, yaitu:

  1. Benarkah tindakan band saya untuk melakukan melindungi karya cipta dengan mengeposkan album (waktu itu alamat yang dituju adalah alamat vocalis band saya) dan tidak membuka kiriman itu.
  2. Saat saya dan teman-teman band saya mendapati salah satu lagu band saya di tempat karoke, sedangkan pihak kami (saya dan teman-teman) tidak mendapatkan konfirmasi, apa yang harus kami lakukan? Dan bagaimana dengan royaltinya?

Mas Ari pun menjelaskan beberapa point untuk melindungi karya cipta.

1. Mendaftarkan karya cipta ke HAKI

Dengan mendaftarkan karya cipta ke HAKI, otomatis kekuatan kita sebagai pemegang hak cipta sah di mata hukum. Karena dalam sertifikat menyebutkan NAMA pemegang dan pencipta karya tersebut dan nama/judul karya cipta.

2. Mengirimkan karya cipta melalui Pos.

Seperti pertanyaan saya diatas, Mas Ari membenarkan tindakan saya dengan mengirimkan karya itu melalui pos. Karena pasti akan tercantum CAP POS dan tanggal pengiriman serta terbungkus.

3. Ada saksi

Saksi yang dimaksud adalah orang yang pertama kali menyaksikan kita (musisi) sedang menciptakan/memperdengarkan/memperlihatkan karya cipta itu. Misal, kita bikin lagu dan didengar sama pacar atau teman. Mereka bisa membantu kita dipersidangan jika suatu saat ada yang menggugat karya cipta itu.

4. Signature

Ini sangat penting. Mas Ari menjelaskan sebagai musisi, kita harus menciptakan signature pada setiap karya kita. Seperti saat kita mendengar lagu Sweet Child O’ Mind oleh Guns N’ Roses. Begitu kita mendengar intro lagu yang khas tersebut, kita langsung aware bahwa itu lagu Guns N’ Roses dengan judul Sweet Chile O’ Mind.

Signature tersebut bukan cuma dari gitar ajaatau dari berbagai macam instrument, baik gitar, bass, drum, piano, atau turntable saja bahkan bisa juga dari vocal. Intinya “SESUATU” yang “KHAS” dalam karya itu.

Mas Ari juga menambahkan, jika kita hendak menuntut atas kepemilikan karya cipta, selain 4 point diatas, kita juga harus memastikan bahwa pihak yang kita tuntut mempunyai akses untuk mendengar/melihat/mendapatkan karya cipta ini. Akses ini bisa berupa Konser, Radio, Televisi, Internet, Album Fisik/Digital.

Analogi sederhananya, A dan B berada di kota yang terpisah sangat jauh, bahkan beda negara. Mereka mempunyai karya yang sama. A hendak menuntut B. Dan A membuktikan bahwa karya itu telah ia publish di Youtube yang ternyata lebih dahulu dari B saat menciptakan/mempublish karyanya. Inilah akses yang Mas Ari maksud.

Untuk pertanyaan saya yang kedua, Mas Ari memaparkan bahwa banyak terdapat lembaga-lembaga yang bisa kita ajak kerjasama untuk urusan pemungutan royalty (lembaga ini bertugus mendatangi tempat-tempat yang memperdengarkan/mempertontonkan karya cipta kita. Seperti tempat karoke, mall, restaurant, cafe, dan lainnya). Seperti YKCI atau WAMI.

Selain obrolan, Pepeng juga memperkenalkan band projectnya yang bernama The Time Travellers. Band ini bergenre IndoRock.

Nah, mau nanya lagi ya? J

Tahan dulu… dipostingan selanjutnya bakal saya jabarin apa itu IndoRock. Tapi sekarang kamu bisa nikmatin sebuah video jadul tahun 1960 dari The Tielmen Brothers ;)

Kecupan manis untuk GARUDA

Standard

Rabu 29 Des 2010, adalah hari bersejarah bagi bangsa ini. Perjalanan yang melelahkan telah terjejaki. Untuk pertama kaliny (setelah sekian lama mati suri) kami berteriak atas satu nama, GARUDA!

Ya, slama ini GARUDA telah mati suri. Terkungkung dalam jeruji kepesimisan. Tapi hari ini Sang GARUDA telah tegak kembali. Firman Utani dan rekan-rekan Timnas telah menjagainya. Menyentak dengan tendangan gemilang di gawang lawan.

AFF 2010 adalah pergelutan hebat bagi Firman dan Timnas PSSI dan kami para pemain ke 12. Mereka (Timnas PSSI) mampu membuka “mata” kami bahwa bangsa ini masih berjaya. Ada optimis di mata mereka. Kami pun menggelora, merahkan GBK!

Kami pun tiba dipenghujung pertempuran. Meski sempat ditaklukkan di kandang Malaysia tak membuat kami loyo. Tapi bagai unggun yg menyala terang, kekalahan kami saat tandang malah memberi O2, kami kian menyala! Lantang kami nyanyikan Indonesia Raya, mantra suci batin jiwa kami di GBK. Getarkan sendi tiap sanubari.

2-1 skor yang harus kami telan. Kalah? Tidak! Kami menang meski tak juara. Dan kami bangga!

Sedih bukan ekspresi yang kami muntahkan. Senyum dan kecupan manis kami hadiahkan untuk GARUDA. Bermula dari sepetak lapangan hijau dan kulit bundar kami bangkit! Dan GARUDA kini kembali kembangkan sayapnya hingga Cakrawala terluar.

Terbanglah GARUDA, tunjukkan pada dunia bahwa Nusantara masih dan kan tetap Jaya!

Terima kasih Firman, BP, Irfan, Gonzales, Arif, Nasuha, Bustomi dan rekan Timnas lainnya. Kalian adalah Pahlawan baru di hati kami.

GARUDA di DADA KAMI!!!

Follow my twitter : @Novelyzius

Review film HOPE

Standard

Rabu, 10 November 2010

Malam itu sungguh beda. Ramai orang terlihat di garasi sebuah rumah pojok di jalan langsat 1. Itu adalah rumah Langsat. “Langsat itu opo?” Ah nanti saja saya cerita ya :)

Para tetamu malam itu terlihat santai sambil menikmati hidangan kambing guling sambil ngopi atau ngeteh. Suasana dengan atmosfirnya yg hangat dan akrab. Semua membaur.
“Pada ngapain?” Hah! Banyak nanya nih :(

Saya dan tetamu itu datang karena penasaran dan ajakan tentang sebuah film, judulnya HOPE. Hemm semacam konspirasi… Ya konspirasi untuk BANGUN.

HOPE! Adalah sebuah film dokumenter. Isinya simpel, kumpulan beberapa komentar masyarakat tentang negeri ini.

“Ah lebih enak jaman orla. Biar kata gua belom lahir tapi kata orang tua dulu enak, dari pada sekarang?!”

Itu salah satunya. Aneh memang, ngerasa enak padahal belum lahir dan pastinya ga ngerasain. Tapi yang pasti itu ungkapan jujur dari satu orang yang ingin merasakan yang terbaik dari bangsa ini.

Kemudian juga ada figur lain. 2 orang yang berbeda umur, beda generasi dan beda kubu. Mereka yang rela mati-matian demi kubu yang mereka junjung. Naif memang tapi itu pilihan yang mereka ambil.

Kemudian ada dari sisi kaum minoritas. Warga Tionghoa. Barongsai Ko Ha Hong. Disini banyak banget yg bisa dipelajari. Bagaimana mereka yang terbungkam selama 32 tahun, dilarang menyelenggarakan kebudayaan Tiongkok itu, Barongsai. Dan setelah dapat pengakuan mereka melejit. Datang ke pertandingan Barongsai di Cina dan merebut juara 1!
Wow! Tapi belum cukup 1 kata wow. Setelah dari Cina, Grup Barongsai Kong Ha Hong diundang untuk ikut bertanding Kejuaraan Barongsai Dunia di Genting Malaysia. Mereka meminta dukungan ke KONI, tapi apa? Jangankan sebuah dukungan, disambut pun tidak. Tapi Barongsai Kong Ha Hong tidak surut. Dengan tekad bulat mereka jabani Genting, dan ini baru WOW BANGET! Mereka menumbangkan juara dunia bertahan! Juara Dunia pun mereka raih. Ini salah satu bentuk perjuangan yang tangguh. Salut.

Kemudia yang tak kalah menarik adalah komper antara 2 anak muda yang sama-sam punya pengaruh terhadap anak muda lainnya di Indonesia. Mereka adalah Panji dan Otong Koil. Panji dari sisi optimis dan Otong Koil dari sisi pesimis. Meski berbeda pola pandang terhadap negeri ini, mereka berdua sama-sama memberi nilai positif.
Contoh, Panji, seperti yang kita tahu, menggetarkan hati kita dengan slogan KAMI TIDAK TAKUT nya terhadap teroris. Dan Otong dengan lirik lagunya INILAH BANGSA BODOH YANG SANGAT AKU BELA. Ironis bukan?! Meski tahu bahwa bangsa ini bodoh, tapi Otong tetap cinta dan ngebela mati-matian.

Itu adalah salah satu dari sekian banyak quote yang bisa diambil dari mereka berdua. Seperti Panji (dan kita semua saya rasa) yang meragukan motivasi mahasiswa sekarang yang bentar-bentar demo. “Mau ngapaian?” Kata Panji. “Ok, lo nanya apa yang udah presiden lakuin dalam masa kerja 100 hari pertama untuk negara? Ga fear donk klo lo juga ga ditanya? Sekarang apa yang udah lo lakuin buat negara dalam 100 hari pertama lo jadi mahasiswa?” Kata Panji lagi. Ungkapan gamblang Panji ini sangat menohok.

Kemudian ada beberapa dialog yang (juga) sangat saya suka.
“Kenapa negara ini banyak koruptor? Kenapa moral bangsa ini bejat? Dan kenapa kita ga maju-maju?” Jawabannya sederhana, “karna lo banyak nanya dan ga ngelakuin apa-apa!” Kembali saya tertegun. Kalau boleh jujur dan memang seharusnya kita jujur sih, kita eh saya deng, sering banget ngeluh dan protes trus nanya. Setelah itu apa? Paling banter kita cuma ngegerundel, ngomel-ngomel ga jelas. Lalu apa kelar permasalahnnya? Ga kan?!

Jelas sudah, dengan menonton film HOPE ini, kita bisa lebih SADAR (jika emang udah sadar?!). Bahwa keberlangsungan bangsa dan negeri ini ada di tangan para pemudanya. Seperti kata Soekarno “Beri aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia!”

Maka berhentilah berkeluh kesah, protes ga jelas apalagi ngedumel. Berbanggalah bahwa KITA CINTA INDONESIA! Dan lakukan sesuatu untuk INDONESIA!

Sebab anak muda itu ada 2 jenis,
1. Yang menuntut perubahan
2. Yang menciptakan perubahan

Dan saya berharap, KITA akan jadi emm maaf ralat, KITA jadi anak muda yang MENCIPTAKAN PERUBAHAN. Kalo pake kata “akan” mah “ntar-ntar”, kelamaan!

Ending scene:
“Kamu tau Nasionalisme ga?”
Anak SMU : “……”(Geleng-geleng)
“Udah belajar Nasionalisme?”
Kembali si anak smu itu diam sambil geleng-geleng. Kali berekspresi imut.
“Emmm… Kalo.. Kamu cinta Indonesia ga?”
Anak smu kaget laku kabur sambil malu-malu kucing “aaahh cinta..cinta..cinta..”
Penonton Langsat : “……….” (Tertawa miris)

Nb:
Film dokumentar ini dipersembahkan oleh Bogalakon pictures.
Disutradari @andibachtiar
Sponsored by XL

Follow my twitter : @Novelyzius