Kenangan dengan ayah


Timang-timang anakku sayang
buah hati ayahanda seorang
jangan marah dan jangan merajuk sayang
tenanglah, tenang dalam buaian

Itulah sepenggal lirik dari lagu lama melayu. Lagu ini mempunyai arti tersendiri buatku.

Minggu lalu aku dan ibuku terlibat obrolan ringan sore hari di teras lantai 2 rumahku. Obrolan yang bermula cerita lucu yang dialami ibuku beralih tema tentang sosok ayahandaku yang telah 2 tahun ini tidak bersama kami. Ya, Ayahanda telah tenang sekarang.

Ibuku bercerita, bagaimana cara ayahku dulu menina bobokanku. Bukan lagu nina bobo, tapi sebuah lagu melayu.

Sesaat aku dan ibuku terdiam. Ada kerinduan yang menyapa kami. Kerinduan yang tak pernah hilang dari darah kami. Sosok ayah yang tegas tapi lembut. Aku ingat waktu aku aku terlambat pulang karena memang hari itu adalah jadwal les yang padat.

Matahari telah tenggelam. Isya berkumandang. Dan ku masih dalam perjalanan pulang. Setibanya di rumah, ku melihat sosok pria tengah baya berdiri di teras rumahku. Memandang lepas ke arah jalan. Aku tahu, itu adalah ayah. Ayah pun melihatku pulang. Beliau pun masuk kedalam rumah.

Kulepaskan penatku di ruang makan. Ibu menghampiriku.

“Kemana saja kamu buyung? Sudah putih mata ayahmu menanti”

“Hari ini aku kursus ibu. Hari ini hari selasa. Ibu lupa aku kursus hari ini?” tanyaku balik.

“Sudah udzur ibumu ini. Ya sudah, datangi ayahmu itu. Lalu isya, baru kemudian makan”

Tanpa menjawab titah ibu aku pun melangkah ke kamar beliau. Di peraduan kulihat ayahanda sedang berbaring membelakangiku.

“Ayah nunggu aku pulang ya?” tanyaku pada ayah.

Ayah pun membalik badannya menghadapiku. “Dari mana saja waang buyung?”

Aku tersenyum kemudian duduk disamping ayah. “Hari ini aku kursus, ayah.”

Ayah menghela nafas lega. “Tolonglah, waang kabari kerumah kalau pulang malam. Kasihan ibumu. Rusuh dia menanti” Nah, sekarang ayah malah nuduh ibu yang resah nungguin aku pulang. Padahal kenyataannya beliaulah yang menanti di depan rumah. Ah, ayah. Masih saja bersikap tegar.

Aku tersenyum (lagi). “Iya, maafin aku ya Yah” ku kecup keningnya.

Itu 12 tahun yang lalu. Dan kenangan itu masih saja segar dibenakku. Dan 2 tahun yang lalu, saat terakhir kali aku bertemu beliau. Januari 2008. Aku dan kakakku entah kenapa memaksakan diri untuk berlibur tahun baru di kampung (Bukittinggi). Aku tak sadar harus memeluk dan mencium kening ayah untuk terakhir kalinya.

Kata ibu, sepeninggal aku yang kembali ke Jakarta, ayah menangis sedu sedan.

“Masihkah panjang umur ayah untuk bertemu dia? Jalannya masih panjang. Belum selesai tugas ayah mendidiknya” Ibu pun meyakinkan ayah bahwa aku pasti baik-baik saja.

Berita itu pun guncang nadirku. Ayah telah “tidur”. Aku pun pulang dengan pesawat pertama. Aku disambut dan dipeluk kakak-kakakku. Dan di depan pintu, saat semua orang memandangku,

“Aku pulang Ayah” pecah tangis peziarah. Ku kecup keningnya dan matanya. Ayah sedang “tidur” dan tersenyum. Aku Tersenyum.

Aku dan ibu masih terdiam. Lirih, ku bernyanyi. Diikuti ibu.

Timang-timang anakku sayang
buah hati ayahanda seorang
jangan marah dan jangan merajuk sayang
tenanglah, tenang dalam buaian

Betapakah hati takkan riang
bila kau bergurau dan tertawa
mogalah jauh dari mara bahaya
yang gembira sampai akhir masa

[Reff:]
Setiap waktuku berdoa
pada Tuhan Yang Maha Kuasa
Jika kau sudah dewasa
hidupmu bahagia sentausa

Timang-timang anakku sayang
kasih hati permata ayahanda
Tidurlah, tidur pejamkan mata sayang
Esok hari bermain kembali

—–

Tak terbendung, air mataku mengalir tenang. Air mata yang bertahun ku bendung. Dan aku luruh.

note:

waang = kamu untuk laki-laki dalam bahasa minang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s