Kupingku disamber petir


Awalnya banyak yang mengira aku becanda. Kuping kena samber petir? Bagaimana bisa?

Respon teman-teman pun bermunculan.
“Hangus ga?”, “Serius?”, “Kayak dikartun-kartun ga?”, “Jadi Flash donk?!”, “Budek ga?”, dan respon lainnya.

Aku pun tidak menyalahkan mereka yang merespon dengan becandaan. Karna mungkin aku yang emang suka becanda. Tapi setelah aku jawab serius, “Demi Allah! Gw kesamber petir!” maka mereka baru mengerti jikalau saat uni aku serius.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah, “Bagaimana kejadiannya?”

Ok, gini…
Siang ini (Jum’at 26 Nov 2010), aku baru pulang dari mesjid guna menunaikan sholat Jum’at. Segera kubuka laptop dengan niat meneruskan project novelku selanjutnya. Projectku ini baru memulai proses drafting. Dimana proses penciptaan karakter, plot dan sebagainya.

Sebelum memulai kerjaanku ini, kusempatkan tuk bersocial media melalui twitter. Untuk memastikan besok (Sabtu, 27 Nov 2010) janjian ketemu dengan beberapa teman tetap diadakan tanpa ada perubahan. Ya aku sedang online di internet. Sembari ngetwit, kukenakan earphone guna mendengarkan musik kesukaanku.

Hujan pun turun dan aku larut dalam musik yang kuputar di laptop sambil bersenda gurau dengan teman-temanku.

Tapi tiba-tiba…
Duuuaarr!!
Suara petir menggelegar! Kilatannya memenuhi ruang tengah rumahku. Saat itu abangku yang sedang ngobrol santai dengan Ibuku terkejut dan berlari mematikan tv seraya berseru “Gung! Petir! Matiin laptop lo!”
Masih disaat yang sama, telinga kiriku seperti disentil, tapi dengan kekuatan yang cukup besar. Sungguh, aku tak mampu untuk menjelaskan lebih rinci. Semuanya terjadi begitu cepat dan dahsyat.

Aku pun terlompat dan berteriak kesakitan. Tapi aku masih bisa secara reflek mencabut kabel litrik yang terhubung dengan modem dan laptopku. Kemudian sakit yang teramat sangat menyiksaku. Tubuhku gemetar. Tangan kiriku menutupi telinga kiri. Aku hanya bisa meringkuk menahan sakit. Abang dan Ibuku melihat aku yang kesakitan pun bertanya. Terbata-bata kumenjawab. Mereka khawatir. Menduga kupingku berdarah yang mungkin saja gendang telingaku pecah.

“Gung, lo bisa denger gua?” Tanya abangku cemas.

Perlahan kuangkat tangan kiriku dari telinga kiri dan melihat, apakah ada darah yang keluar. Aku was-was. Aku gak mau jadi tuli sebelah, apalagi tuli keduanya.

Dan Tuhan masih menyayangiku. Telingaku tidak berdarah. Cuma pada daun telinganya saja yang memerah.
Denga tubuh yang masih gemetar dan pusing, kuyakinkan bahwa aku tidak apa-apa.

Akhirnya kuputuskan untuk berbaring. Menenangkan tubuhku yang masih shock.

Sebangunnya aku dari tidur (ada kali 3 jam gw tepar) ibuku memaksaku untuk ke dokter. Tapi aku menolak, karena aku baik-baik saja.

“GOD still love me”

Follow my twitter : @Novelyzius

Advertisements

2 thoughts on “Kupingku disamber petir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s