Tinggal Dua Dasawarsa


Kemang, 26 Feb 2011, dini hari

Malam itu aku dan 3 temanku (Reea, Dhana dan Reza) melanjutkan kongkow-kongkow di Bierdy Bar. Pemiliknya Kak Jule dengan ramah menyambut kedatangan kami. Memang dia juga sahabat karib dari salah satu temanku, Reea. Tapi bukan karna itu keramahannya. Karena setelah kuperhatikan beliau bersikap sama sama dengan semua tamu. Socialita yang sangat bagus, meski tetamunya tak ia kenal, cipika-cipiki slalu Kak Jule lakukan. Tak ayal, bar yg baru hitungan hari ia takeover menjadi ramai. Feels like home.

Kak Jule,
Secara fisik orangnya cukup menarik ditambah personality yang sangat baik. Perkenalan yang baru terhitung menit terasa pertemanan yang sudah tahunan. Derai tawa dan senda gurau menghiasi kami.

Kemudian di satu moment Kak Jule bercerita tentang ia yang baru saja “membaca” garis tangan Djenar yang kebetulan juga datang malam itu. Oh iya, aku pun kecipratan berkenalan dengan penulis kondang ini yang juga sangat kukagumi.

Kak Jule pun menawariku untuk membaca garis tanganku. Hemm, tawaran yang menarik. Meski secara batiniyah aku tidak mempercayai yang namanya ramalan, tapi sekedar have fun kenapa ga?! Toh buat senang-senang.

Tangan kiriku pun terjulur dan Kak Jule menggenggam erat punggung tanganku hingga telapak tanganku terlentang pasrah menatap langit malam. Satu, dua ia baca garis tanganku. Beberapa celotehannya mengenai garisku membuat kami tertawa. Isi-isi gelas mulai memenuhi perut kami. Suasana semakin hangat.

Hingga… Kak Jule terdiam dan melepaskan tanganku. Ia menatapku dalam. Aku yang terbiasa komunikasi dengan eye contact pun kelu. Ada aura aneh menjalariku. Tubuhku berasa panas namun tanganku yang kini di meja berasa dingin.

“Kamu mau aku bacain semua?” Tanya Kak Jule. “Why not?!” Jawabku singkat.
“Tapi jangan dimasukin hati ya. Anggap aja orang mabuy (mabuk)” ujarnya lagi dengan tersenyum dan kembali memegang tanganku.

“Kamu sehat sampai umur 50 tahun. Namun setelah itu kamu ‘pergi’.”
Dess..mendadak kami diam terlebih aku dan senyumku yang pahit.

“Anak-anakmu mencintai dan sayang kamu, meski salah satu diantara mereka ada yang lebih ‘dulu’ dari pada kamu”
“Tapi kamu tenang aja, mereka (anak-anakmu) akan diurusi kerabat-kerabatmu”
“Saranku persiapkan anak-anakmu sebelum kamu ‘pergi’ dan kamu akan jauh lebih tenang”

Kak Jule terus berceloteh membaca garisku. Tawa kembali terdengar.

Awalnya aku merasa itu hanya ocehan orang mabuk. Tapi ada satu hal yang membuatku berasa aneh. Saat Kak Jule berkata bahwa aku punya Kakek yang ‘pandai’ dengan postur tubuh kecil, mata agak sipit yang berada disampingku. Aku terdiam. Itu benar kakekku.

Larut malan mulai berangsur jelang. Matahari sebentar lagi bangkit. Kami semua pun berpamitan. Disela kecupan pipi dari Kak Jule dan pelukannya ada isyarat yang susah kucerna. “Terusin aja” katanya lirih. Aku menganggul dan tersenyum sambil mengusap punggungnya.

Sepanjang perjalanan pulang sembari mendengar panggilan adzan aku merenung. 50 tahung, itu berarti sekita 20 tahun lagi. Apa yang bisa kutinggalkan untuk anak-anakku kelak?

Dan pertanyaan itu kubiarkan mengambang statis di ruang pikirku. Nanti akan terjawab. Tapi bukan sekarang!

Follow my twitter : @Novelyzius

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s