Mulai seperti mati rasa


Yup,
Aku mulai seperti mulai mati rasa.
Ngga ada salah, ngga ada yang aneh. Semuanya berjalan biasa dan normal.
Matahari masih mengintip bumi dari ufuk timur, udara yang bersikulasi masih penuh noda pergerakan zaman. Semua masih sama.

Mungkin ini bermula dari aku yang mulai mendekati titik nol dalam hidupku. Meski sesungguhnya tidak persis nol jika bercermin dari jejakku terdahulu. Karena aku terus menaikkan strata hidup yang harus mendaki, ya inilah proses hidup, jangan sampai stagnan pada satu titik.

Kembali pada graphic hidupku yang agak sedikit menurun.
Disaat mendekati nol itu, aku membutuhkan sedikit amunisi agar aku bisa kembali ke medan perang yang tengah kugeluti. Suaka pun jadi pengharapan. Tak banyak. Hanya segelintir dan itu pun tak lama. Amunisi itu pasti akan kukembalikan.

Ya, mungkin karena aku yang meminta hanya sekali. Dan aku bukanlah tipe orang yang jika dalam kesulitan bakal teriak-teriak minta bantuan. Sebisa mungkin, hingga tetes darah terakhir akan kuhadapi sendiri. Lebih tepatnya ngeyel!
Plus, adat istiadat yang kukecap menjadikanku lebih sensitif dalam menghadapi sesuatu. Tekanan suara, intonasi nada, penulisan kata, dan hal remeh temeh (bagiku itu prinsip) lainnya membuatku berasumsi beda.

Panjang lebar pastinya jika kita bicara kultur, dan lain-lain.

Respon yang kudapat untuk suaka dan amunisi pun sebenarnya cukup positif, tapi, kembali, tanggapan yang kudapatkan memaksaku untuk berasumsi bahwa ada “sedikit” keberatan. Akhirnya, aku cuma bisa diam.

Marah?
Ngga, aku ngga marah.
Buat apa marah? Hakku apa untuk marah? Percuma tho?!
Itu kan hak mutlaknya, dan aku cukup sadar akan posisiku ini.

Aku pun memilih untuk diam dan membiarkan diriku agak larut dalam kehampaan. Tak sepenuhnya hampa, masih ada harapan walau itu agak sedikit melenceng dan juga sebutir dua butir peluru dari aliansiku masih cukup membantu.

Tapi imbasnya ini yang bikin ngga enak. SEPERTI MATI RASA!
Sial! Semuanya berasa datar! Tak ada lagi dinamika dan ritme yang membuatku melonjak girang.
Semua not, istirahat di tempat, hanya “DO” yang masih saja mengambil nada awal, dan itu akan berujung sama. Emang, lebih naik satu oktaf. Tapi tetap sama, NOT yang sama, DO!

Batang takdirkulah yang menjadikanku harus bertahan.
Senyum, meski hambar akan tetap kuhaturkan. Toh, bukan kali ini saja dikerdilkan. Lucunya, aku pun menemukan pepatah rancu, yakni “Seringkali kita merasa KERDIL saat orang memandang kita RENDAH, tapi sesungguhnya itulah kesempatan kita untuk INTIP BAWAHANNYA”.

Kamu bisa aja menginterprestasikan kutipan diatas sebagai cecandaan yang nyeleneh bahkan bisa kepada hal yang positif. Itu terserah anda lah 🙂

Aku tidak menyerah, hanya bersandar pada realita yang ada. Pepetah Minang “Maukua bayang-bayang” yang berarti “Mengukur bayang-bayang”. Dimana kita menyadari dan pahami kemampuan dan posisi kita sendiri. Singkat kata, SADAR DIRI. Atau kalau kata anak-anak gahol (gaul) bilang, NGACA! 🙂

Baiklah, cukup sekian dulu ocehan ngga penting ini. 🙂

Salom

Satria “Novelyzius” Agung

Follow my twitter : @Novelyzius

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s