Mimpi, Pagi dan Rindu Ayah


My Dad

Pernahkah kau memecahkan tangismu dikala sesaat terjaga?

Lepas tak terkendali.

Airmatamu mengurai bebas bersama isakmu

Dan hanya menyebut satu nama…

Pagi ini, akan berasa beda dari hari yang lain. Lebih sudah bumi mengitari matahari sebanyak 3 kali sejak “kepergian” ayahku. 3 tahun 5 bulan, lebih tepatnya Ayah meninggalkan kami.

Usai sholat subuh, kubaringkan sejenak tubuhku sekedar melapas penat. Sukses pun ku terlelap. Dan dimensi rasian kembali mempertemukan dengan lelaki tua ini.

Fisiknya terlihat sehat dan segar. Dapat kuhirup aroma keringatnya yang khas. Ia terduduk di kursi kayu yang kutak tau siapa pemiliknya. Aku bersimpuh di depannya. Meminta ampun atas kesalahanku dan memintanya mengikhlaskan jalanku.

Pria tua itu menangis mengusap kepalaku. Kutangkupkan tapakku di pipi lembutnya. Hangat tetesan airmatanya membasahi tanganku. Aku pun menciumi lutut dan tungkai kakinya serta memeluknya.

Tangisan kami bercampur aduk. Menyatu melarutkan asa yang berlarian dari mata kami.

Lalu aku tersentak. Membuka mataku. Dan meledaklah tangisku. Tak terbendung. Tak lagi terkungkung.

Aku betul-betul menangis dan terisak. Benar-benar terisak dan menangis. Entah belasan tahun lamanya aku tak lagi menangis seperti ini. Kukejarkan isakku. Memompa cepat dadaku. Aku lepas kendali namun terbaring.

Mungkin karena isakku yang memanggil, Ibu berlari masuk ke kamar “Kamu kenapa?” tanyanya risau.

“Abak” jawabku disela tangis. Kini tangisku dan tangis ibu yang berhamburan. Ciuman bertubi-tubi di wajahku. Aku hanya bisa terisak dan menangis sambil terbaring. Badanku kaku.

Kami lepaskan sejenak isak yang membuncah ini, hingga senyap waktu membawanya pergi.

“Sejak kamu akhil baliq, bau sekarang mami liat kamu nangis kayak gini” ujar ibuku lirih

Perlahan aku kembali mengendalikan tubuh dan emosi. Istighfar melantun pelan dari mulutku. Hanya pasrah, itu yang ada di benakku. Mengerjapkan mataku beberapa kali dan kemudian duduk.

Ada lega kini.

Ada senyum kini.

Kami merindukanmu, Abak…

Note:

Abak РAmak  adalah panggilan sayangku untuk Ayah РIbu,

Dimana semua kakak-kakakku memanggil Papi – Mami

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s