Perjalanan Batin (part 1)


perjalanan batin

Sadarkah kita, bahwa dalam diri kita ada hak orang lain?

Selama ini yang selalu kita dengar dan ketahui hanyalah hak orang lain atas harta/rejeki kita.

Namun saya ingin menambahkan, bahwa bukan hanya harta saja, tapi lebih dari itu.

Saya akan sedikit menuturkan pengalaman saya yang masih hangat.

Semalam, usai menunaikan tugas mulia sebagai ojek cinta (yang minat bisa pm sayah *hloh?) saya mendapati info dari akun twitter Blood4Life bahwa ada orang yang sedang membutuhkan darah B+. Ia adalah pasien jantung yanng keesokan harinya akan dioperasi. Segera saya hubungi cp yang tertera. Alhasil, saya diminta segera merapat ke RSCM saat itu juga.

Mendonorkan darah bukan hal baru buat saya. Biasanya saya ikut acara penggalangan darah. Dan darah saya itu dikumpulkan PMI dan saya tak tau siapa yang nanti akan menerimanya. Tapi malam ini berberbeda. Saya tau siapa yang bercampur darahnya dengan saya.

Setiba di RSCM saya diminta kebagian PJT (Pelayanan Jantung Terpadu) dan naik ke lt. 5. Di sana telah berkumpul banyak orang. Tak butuh waktu lama buat saya berbaur dengan mereka yang ternyata adalah reka-rekan si pasien. Oh iya, pasien adalah pria (Mas Nawi) yang mengalami gangguan pada klep jantungnya dan akan diganti dengan klep yang terbuat dari metal. Meski ada opsi lain yaitu menggunakan klep jantung hewan (sapi atau babi).

Selain para rekan, pasien hanya ditemani istri (Mbak Liza) dan mertuanya. Mbak Liza menuturkan bahwa ia dan Mas Nawi hanya berdua di Jakarta. Tak ada satu pun sanak family (mereka orang Aceh). Sehingga ayah Mbak Liza terbang dari Aceh untuk menemaninya. Saya pun tertegun. Terlebih lagi saat ayah mbak Liza mengatakan bahwa pasien sudah tidak memiliki orang tua, dan hanya pada dirinya pasien bisa mengadu dan berkeluh kesah selaku orang tua.

Perbincangan kami pun semakin larut. “Mas Nawi sakit sejak kapan, mbak?” tanyaku kemudian. “Sebenernya sih dari kecil, tapi baru ketahuannya setelah 1 tahun menikah. Kami baru 2 tahun menikah” jawab Mbak Liza. entah sudah berapa kali saya dibuat tertegun karenanya.

Meski demikian, tak terlihat wajah murung dari wanita ini. Senyumnya selalu terpampang. Ia sangat ceria. Satu-satunya yang berwajah sendu hanya ayah Mbak Liza. Pria tua ini terlihat sangat rapuh. Dan entah berapa kali saya harus mengalihkan pembicaraan agar tidak hanyut dalam percakapan mendung nan rentan hujan airmata ini.

Lalu terlihat petugas rumah sakit yang meminta kami bersiap untuk mendonor (bersambung)

Advertisements

2 thoughts on “Perjalanan Batin (part 1)

    1. Hallo mas Yudo πŸ˜€
      Alhamdulillah Bang Nawi katanya udah siuman tapi masih di ICU ya. Aku pengen kesana euy πŸ™‚
      Saya yang belajar banyak dari mereka, mas. πŸ™‚
      Dan yang pasti sekarang saya jadi nambah saudara πŸ˜€

      btw, saya follow twitternya ya πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s