Perjalanan Batin (part 2)


Pukul 9 malam kami diajak ke lantai 1 untuk bersiap. Setelah menunggu beberapa saat, seorang petugas menghampiri kami dan mengajak untuk berangkat ke PMI Pusat yang terletak tak jauh dari RSCM. Setiba di parkiran saya dan pendonor lain mengira berangkat dengan mobil operasional rumah sakit, tapi ternyata naik angkot. Nah lo? Alhasil rombongan menjadi terpecah. Ada yang naek motor, ada yang ngangkot dan saya bersama Mba Liza memilih naik bajaj 😀

Kami pun akhirnya berkumpul di PMI. Awalnya hanya ada 3 pendonor, namun selang beberapa saat 2 orang pun datang ikut bergabung mendonorkan darahnya. Puji syukur kami pada Tuhan. Masih banyak orang-orang yang peduli dengan sesama meski tidak saling kenal.

Ini pertama kali aku mengunjungi kantor PMI. Kami menuju lantai 5, dimana banyak orang yang menunggu giliran untuk didonor maupun menunggu hasil donor. Sumpah, saya agak syok. Suasana jauh dari kesan tertata rapi. Setelah mengisi dokumen yang dibutuhkan kami pun menunggu untuk dipanggil satu-persatu. Saya masih agak linglung dengan suasana yang sangat crowded ini. Demikian rekan-rekan pendonor lainnya.

Mungkin karena melihat muka linglung kami, seorang pria mendekati kami sembari bertanya apakah kami sedang mencari donor dan golongan darahnya apa? Saya langsung teringat dengan twit Mami Silly yang sempat bercerita bahwa di PMI juga ada CALO. Harga yang ditawarkan pun beragam. Mulai dari Rp. 500rb s/d 1 juta. Kok tega ya?!

Dan dengan ketus saya jawab bahwa kami adalah yang mau donor, bukan cari pendonor. Saya lihat Mbak Liza bingung. Namun setelah saya jelaskan, ia pun mengerti.

Oh iya, disini saya baru mengetahui bahwa semua orang Indonesia itu yang bergolongan darah B adalah B+. Cuma bule yang B saja.

Kami dipanggil satu persatu untuk diperiksa. Ternyata dari 5 pendonor hanya 3 orang yang diperbolehkan (termasuk saya). Sebab 2 orang yang gagal dalam kondisi yang tidak baik. Ada yang terlalu kental karena habis begadang dan ada yang dalam kondisi tidak sehat. Memang yang dibutuhkan hanya 3 kantung saja, tapi ada baiknya jika berlebih. Untuk jaga-jaga. Dan alhasil donor darah yang didapatkan pas dengan permintaan pihak rumah sakit.

Malam semakin larut dan antrian masih panjang. Tak urung kelopak mata saya pun memberat. Tapi saya terus bertahan. Duduk kami agak terpisah-pisah. Dikejauhan saya melihat Mbak Liza beberapa kali mengusap ujung matanya dengan bergegas. Wanita ini berusaha terlihat tegar. Kemudian ia pun mengeluarkan sebuah buku kecil yang saya duga buku doa. Dan benar saja, untaian doa mengalun lembut dari bibirnya.

Saya makin mengerti, dibalik kelembutan wanita, ada 1 elemen yang sangat kuat dan melebihi baja sekalipun. Entah apa namanya, yang pasti membungkamkan saya.

Hampir tengah malam, giliran kami tiba untuk mendonor. Ditengah rasa kantuk yang menggelayut saya bertahan. Setengah 1 pagi kami bertiga selesai berdonor. Saya mendapatkan giliran pertama dibanding 2 rekan yang lain. Bahkan baru saja saya usai, lampu di gedung PMI padam. Tapi semua berjalan lancer. Tak lama kemudian kami pun bubar. Saya dan Mbak Liza kembali ke RSCM.

Diperjalan kembali menuju RSCM kami pun ngobrol. Mbk Liza ini ternyata masih muda. Usianya masih 23 tahun dan memiliki 1 orang anak berusia 1 tahun. Dan Mas Nawi adalah anak sulung yang menanggung biaya hidup adik-adiknya. Meski demikian ia sangat tegar dan percaya akan kekuatan pikiran. Jika kita mengakomodir pikiran kita akan hal-hal yang positif, maka niscaya hasil yang akan kita dapatkan pun positif.

Saya dan Mbak Liza berpisah di RSCM. Saya memintanya untuk tetap mengabari saya progress kondisi Mas Nawi. Dan perjalanan pulang menuju Pondok Gede saya tempuh dengan santai. Meski kantuk yang amat sangat, saya tidak mau mengambil resiko dengan ngebut. Diperjalanan saya berdoa, agar operasi esok berjalan lancer tanpa ada halangan dan menghasilkan kabar gembira.

 

Nb:

Operasi berjalan lancer dan selesai Maghrib tadi (9 September 2011)

Tinggal menunggu Mas Nawi siuman. Terima kasih buat teman-teman yang ikut mendoakan J

Advertisements

One thought on “Perjalanan Batin (part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s