Mengukur Bayangan


Tak ada yang sempurna di alam semesta ini selain-NYA.

Saya percaya ini, dan memang demikian adanya. Bahkan super hero pun punya batasan. Tak semerta-merta bisa semuanya. Superman sebagai contoh. Walau bisa terbang, mata dan telinga super dan amat sangat kuat, tetap aja, kolor dipake di luar celana panjang! Ini bukti nyata doi gak bisa semua.

Begitu juga dengan kita yang notabenenya biasa-biasa aja. Kita harus menyadari kapabilitas dan kapasitas diri kita. Dalam pepatah Minang “Maukua bayang-bayang” yang dalam Bahasa berarti Mengukur Bayang-bayang.

Pepatah ini amat sangat sering terdengar di kehidupan masyarakat Minang. Bukan hanya diucapkan, tapi maknanya begitu dipahami dan mematri. Lebih dari sekedar pepatah, tapi juga sebagai “alarm”. Menyadarkan bahwa tiap-tiap kita memiliki garis batas yang tak bisa kita lewati.

Dan alarm ini kembali membangunkan saya hari ini.

Hari ini saya diundang seorang teman lama untuk mengunjungi kantornya. Bukan cuma sekedar berkunjung, sang teman ini menawarkan sebuah pekerjaan. Masih di lahan yang sama yang tengah saya geluti saat ini, Penulisan!

Saya sangat senang, karena Alhamdulillah 1 pintu rejeki lagi dibuka-Nya. Sesi interview abal-abalan pun digelar, hanya sekedar memenuhi birokrasi yang ada. Tapi saya dan teman saya itu sangat “serius” menjalani.

Satu selesai dan sesi lain berlanjut. Saya dipertemukan dengan Sang Manager. Bincang-bincang makin serius. Hingga di satu titik. Saya diminta menulis dalam bahasa Inggris. Nah lho?

Di sinilah “alarm” saya berbunyi, mengukur bayang-bayang. Walau saya bisa berbahasa bule itu (little little sih I can lah) bukan berarti saya bisa menulis sebuah artikelnya. Apalagi artikel marketing! *tepok jidat*

Saya amat sangat menyadari, sesuka apa pun dan semampu apa pun saya dalam dunia literasi, tapi saya pasti jongkok jika berbahasa bule ria.

Sang Manager mencoba meyakinkan saya, bahwa saya mampu. Tapi dengan “bajaj” saya mencoba lebih meyakinkan beliau bahwa saya tidak mampu.

Amat sangat disayangkan memang, tapi apa mau dikata? Dari pada mengecewakan, lebih baik mundur.

Dan kembali kehidupan dan alam adalah guru terbaik. Mengajarkan saya sebuah pengalaman, yakni KITA BUKAN SUPERMAN! “Emang lo mao make kolor di luar celana!!!”

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

2 thoughts on “Mengukur Bayangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s