Dendang Mesin Jahit Ibu


penjahit

 

Bagi seorang ibu, banyak cara mereka untuk menunjukkan kasih sayang mereka pada kita. Bahkan dengan cara yang sama sekali tak pernah terlintas di benak anak-anaknya. Terjaga di tengah malam hanya untuk membetulkan selimut kita, menyelipkan nama kita dalam doanya, atau menyajikan secangkir teh panas dikala pagi menyapa kita.

Saya, terlahir dalam keluarga besar dimana saya sebagai bungsu dengan ayah yang “karyawan pemerintah”. Ayah adalah Sang Penuntut Hukum di meja hijau. Kedudukannya cukup tinggi, namun beliau lebih memilih memegang teguh KEJUJURAN dalam karir dan keluarganya. Jadilah kami hanya menerima jatah bulanan resmi nan halal untuk mencukupi semua kebutuhan keluarga. Tak terbayang, memadaikah gaji ayah menghidupi istri dan kesembilan anaknya? Kita semua tahu, berapalah gaji pegawai negeri.

Ibu, cantik dan lembut. Tak ada obat yang lebih manjur di dunia ini dibanding senyuman nan dipadu usapan tangannya di kepala, berikut bonus kecupan hangat. Ya, saya mencintai ibu saya. Jika Tuhan membenarkan, mungkin saya telah menyembah beliau.

Ibu amat sangat menyokong prinsip ayah. Menjaga kejujuran tetap mengalir dalam darah kami adalah mutlak dan vital. Tapi cukupkah dengan apa yang ayah beri?  Tak habis akal ibu pun menjahit guna membantu suaminya. Bisa dibilang, kami dibesarkan oleh jarum jahitan ibu.

Siang malam ibu tak berhenti menjahit. Ia tak ingin berhenti. Jika berhenti maka berhenti pula kami makan atau tak akan lagi bersekolah. Mesin jahit itu tetap menderu bagai suara kereta api. Ayunan kaki ibu pada tapak pedal mesin jahit berirama dengan tangannya yang mengendalikan tiap benang mengikuti pola yang ia gambar sendiri.

Tahukah bagaimana suara mesin ini jika ia berdiri di lantai kayu? Suaranya akan merayap bebas ke segala penjuru. Jika tak biasa maka pekaklah telinga. Tapi tidak bagiku.

Sejak aku dilahirkan, aku selalu dibaringkan di samping mesin jahit ibu. Tak ada buaian, hanya beralaskan kasur kecil dari lipatan selimut. Gemuruh suara mesin jahit ibu seperti simfoni karya maestro handal. Aku akan tertidur pulas.

Alunan dendang ibu bersama mesin jahitnya selalu kurindukan. Bahkan kini. Hampir 3 dasawarsa hidupku, aku masih mengaguminya. Pernah ibu bertanya, “Ta gaduah beko karajo?” (Keganggu gak ntar kerjanya?) karena mesin jahit ibu persis di sampingku yang sedang bekerja. Aku tak menjawab, hanya tersenyum sembari mengambil penyangga kepala dan rebah. Simfoni indah. Dan ku terlelap.

Advertisements

2 thoughts on “Dendang Mesin Jahit Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s